subak di bali

Subak Bali – Mengenal Subak Lebih Dalam Sebagai Bukti Kearifan Lokal Di Bali

Subak Bali– Pernahkah anda mendengar kata ‘subak’? tidak? bahkan anda yang tinggal di Bali? Mungkin bagi anda yang tinggal di Bali bagian kota dan lahir pada tahun 20-an dapat dimaklumi jika tidak mengenal subak. Subak sudah terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan UNESCO yang merupakan organisasi internasional dibidang edukasi, sains dan kebudayaan telah menobatkan SUBAK sebagai sebuah situs warisan dunia pada tahun 2012,pada sidang pertama yang berlangsung di Saint Petersburg, Rusia.

Sudah banyak para peneliti-peneliti baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri datang ke Bali untuk melakukan penelitian tentang Subak. Dan Kini, meskipun telah banyak diteliti kita juga harus ikut memahami lebih dalam tentang apa itu subak dan apa saja manfaat subak bagi kehidupan dan kearifan lokal di Bali. Orang luar sangat peduli dengan keunikan budaya yang kita miliki. Mengapa kita harus mengabaikan warisan sebesar ini?

Untuk itu kita mulai dari mengenal apa itu SUBAK.

Subak Sebagai Sebuah Sistem Irigasi Di Bali

subak di bali
Keindahan sawah di Bali dengan sistem Subak. source : kadek-elda.blogspot.com

Menurut wikipedia.org, Subak adalah sebuah organisasi kemasyarakatan yang dengan khusus mengatur dan mengelola sistem pengairan sawah dalam bercocok tanam di Bali. Subak diketuai oleh seorang ketua yang dinamai dengankelian subak (juga disebut pekaseh, namun secara umum bernama kelian subak). Kelian subak yang juga merupakan seorang petani ini yang nantinya mengorganisir bagaimana sistem perairan yang cocok untuk daerahnya, begitu pula ketika musim yang berbeda seperti musim kemarau dan musim penghujan.

Sebuah Subak (organisasi) biasanya wajib memiliki sebuah pura atau bangunan suci yang diberi nama puraUluncarik atau PuraBedugul. Pura ini dibangun khusus oleh para petani untuk memuja dewi Sri yang diyakini sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan.

Sebuah filosofi di Bali mengajarkan bagaimana mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan yang sempurna. Hal itu tertuang dalam istilah “Tri Hita Karana” yang artinya 3 buah penyebab kebahagiaan. Bagian-bagian dari Tri Hita Karana ini adalah yang pertama menjalin hubungan yang baik antara manusia dengan sesamanya. Kemudian yang kedua adalah menjalin hubungan yang baik dengan alam dan lingkungannya. Dan yang ketiga adalah Manusia Dengan Tuhan.

Dalam sistem SUBAK ini, masyarakat bali khususnya para petani (anggota subak) telah menerapkan konsep tri hita karana dengan sangat baik. Hubungan-hubungan yang dijalin tetap harus terjaga dan dengan komposisi yang seimbang. Baik antara manusia, alam lingkungan termasuk dengan tuhan. Inilah yang menjadi dasar kuat mengapa sistem subak dapat berkembang hingga saat ini.

MengenalSistem Kerja Subak Bali

sistem irigasi di bali
Salah satu irigasi di sistem Subak Bali. source : i.ytimg.com

Subak sangat bergantung dengan aliran air yang sudah tentu fungsinya adalah untuk mengairi tanaman yang ada di sawah. Sumber air di Bali biasanya bersumber dari pegunungan atau danau yang dialirkan oleh sungai dan anak-anak sungai lainnya. Air yang mengalir inilah yang kemudian dimanfaatkan sedemikian rupa oleh para kelian subak untuk kesejahteraan para petani lainnya.

Dan sekarang masalahnya adalah bagaimana memberikan air ini sehingga semua komponen sawah dapat dicakup olehnya. Sebelum itu, kelian subak akan melakukan perundingan dengan para anggota subaknya, perundingan ini bagi para penduduk Bali disebut sangkep (angkep = Mendekat,berdekatan). Perundingan ini mencakup tentang bagaimana sebuah lahan sawah akan diberi air, seberapa banyak, seberapa lama dan bagaimana mereka bekerja. Perundingan ini selalu menggunakan asas gotong royong dan kekeluargaan, serta yang paling utama adalah rasa adil bagi seluruh anggota subak. Maka dari itu, perundingan harus dipikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan sehingga tidak ada anggota yang dikesampingkan ataupun dikecewakan.

Tugas utama dari subak adalah untuk menglirkan air dari sungai ke sawah. Sungai di bali disebut denganayoan atau bisa juga disebuttukad.Dari sungai kemudian para anggota subak akan bahu membahu membuat aliran air untuk dialirkan kesawah. Aliran ini biasa disebut denganjelinjingan. Selain mengalirkan air, subak juga biasanya bertugas untuk membuat akses jalan dari sawah ke jalan utama. Intinya, Semua pekerjaan yang berguna untuk kesejahteraan petani dilakukan oleh subak dengan asas gotong-royong dan keadilan. Sehingga semua anggota subak akan saling bahu-membahu untuk mensejahterakan sawah mereka yang nantinya juga akan dapat mensejahterakan para anggota subak itu sendiri.

Jika pada musim kemarau, dimana intensitas air mulai menurun. Maka kelian subak akan kembali mengadakan Sangkep (perundingan) dengan para anggotanya. Mereka akan membahas pembagian air secara merata dengan sistem yang bisa saya sebut sebagai sistem ‘meminjam air’. Jadi intinya, semua anggota dari subak (petani) akan mendapatkan jatah air secara merata. Contohnya ketika seorang petani mengalami kekeringan, maka petani lain yang telah merasa cukup mengairi airnya akan memberikan air kepada petani yang mengalami kekeringan. Disini kearifan lokal sangatlah diperlukan, asas kekeluargaan yang tinggi antar petani dapat menghasilkan keberhasilan sesama. Para petani akan bergiliran mendapatkan air dari sungai sehingga tidak ada kekeringan berlanjut yang menyebabkan gagal panen.

Sistem pinjam air disini tidak hanya berlaku antar para petani saja, bahkan juga bisa antar Subak. Karena dalam sebuah desa akan ada lebih dari satu subak. Jika salah satu subak kekurangan pasokan air, maka mereka akan meminjam air ke subak yang lainnya yang telah cukup dengan air. Pertemuan setiap kelian subak ini juga dilakukan secara rutin agar pengairan dan pengontrolan air dapat dilakukan dengan baik. Pertemuan ini biasanya juga diikuti oleh kepala desa sebagai pemonitoring, namun kepala desa tidak dapat mengambil keputusan dalam pertemuan ini. Mungkin karena kepala desa tidak memiliki pengetahuan yang baik dalam bidang sistem irigasi. Sehingga yang mengambil keputusan hanyalah para kelian subak.

Subak juga mengatur setiap sesi masa panen dan masa tanam. Sehingga sistem pengairan akan dapat berjalan secara serentak untuk setiap anggotanya. Tidak akan ada petani yang lebih dulu memanen padi ataupun menanam bibit padi. Semua telah diatur dalam sebuah peraturan hukum adat yang tidak tertulis, namun harus tetap dipatuhi.

Manfaat Subak Bali

Subak memiliki manfaat yang sangat banyak baik bagi kehidupan petani, juga bagi para masyarakat sekitarnya.Manfaat adanya organisasi subak dapat dibagi menjadi :

  • Meningkatkan Kesejahteraan Para Petani. Melalui sistem irigasi yang berasaskan keadilan bersama,sehingga para petani akan tetap mendapatkan air meskipun dalam keadaan krisis air. Selain itu juga, dapat menghindari terjadinya konflik antar petani hanya gara-gara memperebutkan aliran air ke sawah mereka.
  • Meningkatkan Kearifan Lokal,dengan terciptanya sistem Subak yang secara dominan menggunakan asas gotong-royong dan kekeluargaan. Maka kearifan lokal antar para petani akan semakin terjaga dan terjalin sangat erat.
  • Mensejarterakan Koperasi Unit Desa Yang Ada, kemudian setelah mensejahterakan petani, maka para petani akan semakin giat untuk memperoleh hasil yang maksimal. Disini peranan koperasi akan sangat membantu baik melalui koperasi simpan pinjam atau sejenisnya yang juga pada akhirnya akan mensejahterakan masyarakat sekitar.

Hubungan Yang Baik Dengan Tuhan Sebagai Wujud Syukur Para Petani (Subak)

sawah subak bali
Istri seorang petani sedang melaksanakan ritual di pelinggih. source : bisnis.com

Salah satu keunikan Sistem irigasi Subak dengan sistem irigasi lainnya adalah adanya sebuah Pura (bangunan suci, tempat ibadah) yang ada di setiap subak. Selain pura tersebut, para petani juga membangun sebuahpelinggih (simbolisasi untuk memuja tuhan) di setiap sawah yang mereka miliki. Biasanya setiap purnama atau tilem, para petani akan menghaturkan sesajian di pelinggih tersebut untuk meminta berkah untuk sawah yang mereka garap.

Selain itu,masih banyak lagi ritual-ritual khusus yang dilakukan oleh para petani di Bali. Contohnya adalahNwasen Meniwih (dilakukan ketikamulai menanam bibit), Ngendag Amacul (daat mulai mengolah tanah), Nwasen Nandur (saat mulai menamanam), pesembuahan (umur tanaman padi sekitar 12 hari, atau selesai mengalami pemindahan dari tempat pembibitan ke petakan sawah). Ritual Nwasen Nandur ini untuk memohon agar pertunasan akar tanaman padi berkembang baik. (feybelumuru.wordpress.com:2015)

Selain upacara yang dilakukan di masing-masing sawah, juga ada upacara yang dilakukan di Pura masing-masing subak. Semua ritual yang dilakukan pada intinya adalah wujud syukur dari para petani berkat rahmat yang telah diberikan oleh tuhan yang maha esa (Ide sanghyang widhi wasa).

Sistem irigasi Subak memang sangat berguna dan memiliki banyak manfaat. Namun karena perkembangan zaman yang sangat cepat, membuat para petani menjadi berfikir dua kali untuk menjadi petani. Maksudnya adalah, kebutuhan akan tuntutan zaman, keinginan mengikuti perkembangan zaman, menjadi tantangan tersendiri untukpara petani. Akibatnya, banyak petani di bali yang yang terlena sehingga menjual lahan milikinya untuk dapat mengikuti perkembangan zaman.

Selain itu juga, karena Bali merupakan kawasan wisata yang sangat banyak mendatangkan turis membuat para perusahaan berbondong-bondong untuk membangun akomodasi yang layak seperti membangun hotel, restoran, dan yang lainnya dengan mengorbankan lahan pertanian.

Padahal menurut saya, sektor pertanian di Bali juga berkaitan erat dengan sektor kebudayaannya. Kearifan lokal ada karena sistem Subak, Subak ada karena adanya petani yang memiliki lahan. Bayangkan jika para petani tidak memiliki lahan? kearifan lokal akan menjadi memudar seiring dengan perkembangan zaman. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provensi Bali, pada tahun 2013 luas lahan persawahan di Bali mencapai 81.165 ha kemudian menurun menjadi80.542 ha di tahun 2014. Itu artinya, 623 ha lahan sawah di bali beralih fungsi hanya dalam waktu satu tahun. Bayangkan jumlah lahan yang berkurang di tahun 2016 ini, lalu ke tahun-tahun berikutnya.

Mungkin saja seluruh wilayah Bali ini akan tertutup oleh beton-beton yang dibangun hanya untuk kepentingan pribadi semata. Jika sektor budaya di Bali hancur, maka semua sektor yang ada di Bali akan ikut hancur.