Pementasan joged bumbung bali

Joged Bali – Segala Hal Tentang Tarian “Erotis” Di Bali

Joged Bali – Bali merupakan sebuah pulau yang tidak hanya kaya akan keindahan alam, namun juga kaya akan keindahan budayanya. Hal itulah yang menjadi daya tarik para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang ke bali. Salah satu budaya yang terkenal di Bali adalah tari-tariannya yang khas.

Salah satu tarian yang terkenal di Bali adalah tari pendet yang beberapa tahun lalu sempat diklaim oleh malaysia sebagai budayanya sendiri. Selain pendet masih banyak tarian di Bali yang cukup terkenal seperti tari rejang, tari cendrawasih, tari joged dan masih banyak lagi jenis tari-tarian yang ada di Bali.

Untuk sekarang kita akan fokus ke salah satu tarian yang sedang menuai kontroversi, apa lagi kalau bukan tari joged bali. Tarian yang tujuan utamanya adalah menghibur ini kini beralih fungsi menjadi tarian erotis yang cukup meresahkan hati. Bahkan orang-orang mancanegara menyebut tari joged dengan sebutan “Hot Balinese Dance”, padahal itu sudah jauh dari tujuan utama tari joged itu sendiri.

Untuk mengawalinya, ada baiknya kita tahu bagaimana sejarah tari joged bali sehingga kita tahu apa tujuan utama diciptakannya tarian tersebut.

Sejarah Tari Joged Bali

Tari joged di Bali dibedakan menjadi beberapa jenis, yakni :

  1. Joged Pingitan, tarian ini pada awalnya adalah tari pergaulan yang digandrungi oleh orang-orang yang berada di lingkungan istana. Namun sekarang tarian tersebut berubah menjadi tarian sakral misalnya seperti yang ada di banjar Pekuwudun Sukawati.
  2. Adar, Tokohan, Udegan, adalah tarian pergaulan yang telah diadopsi oleh masyarakat sekitar di bali.
  3. Andir, adalah jenis tarian pergaulan yang pementasannya berkaitan dengan ritual keadamaan.
  4. Gandrung, adalah jenis tari pergaulan yang dulunya dipentaskan oleh para laki-laki, namun kini pementasannya dilakukan oleh para perempuan.
  5. Joged Bumbung, berfungsi sebagai tari hiburan yang sekarang ini menjadi tarian yang banyak diperbincangkan di masyarakat di Bali.

Joged Bumbung merupakan asal muasal dari penyebutan ‘tari erotis’ di Bali. Namun pada dasarnya, tari joged bumbung tidak bertujuan untuk mempertontonkan sisi keerotisan dari para penarinya ataupun membuat para penonton menjadi ‘terangsang’. Pada awal mulanya, tari ini mulai berkembang di tahun 1940-an dari kalangan para petani di Bali Utara. Kala itu, untuk melepas rasa letih para petani sehabis menggarap sawahnya, mereka memainkan alat musik rindik sebagai penghibur diri mereka. Ketika itu, ada juga para wanita yang menari mengiringi gambelan rindik yang dimainkan oleh para petani dan para petani lain ikut menari bersama dalam iringan gambelan tersebut. Itulah yang kini berkembang menjadi tari joged bumbung di Bali.

Pada dasarnya, tarian di Bali dibedakan menjadi 3. Yakni tari wali, tari bebali, dan tari balih-balihan. Untuk tari joged Bumbung seharusnya masih ke dalam jenis dari balih-balihan karena memang fungsi utamanya adalah hanya untuk menghibur.

Tari Joged Bumbung Bali

joged porno di bali

Tari Joged Bumbung Bali, merupakan tari joged bali yang memiliki gerak tari yang agak bebas, lincah dan dinamis. Sebagian gerakannya diambil dari Legong ataupun kekebyaran dan dibawakan secara improvatif. Tari joged sering dipentaskan di acara-acara manusa yadnya seperti acara pernikahan atau 3 bulanan. banyak sekarang sekee (kelompok seni tari) yang memberikan jasa tari joged untuk acara-acara tersebut.

Semua tari joged merupakan tari berpasangan antara laki-laki dan perempuan, kecuali tari Joged Pingitan yang memang merupakan tarian sakral. Pada joged bumbung, penari utama adalah perempuan yang mengenakan kostum adat penari sebagai mana mestinya. Penari kemudian akan memilih pasangannya secara acak. Pria yang terpilih untuk menari dengan sang penari disebut dengan pengibing. Kemudian meraka akan melakukan gerakan-gerakan tarian yang cukup mesra untuk menghibur para penonton.

Sang penari perempuan akan senantiasa melakukan gerakan-gerakan tari yang mampu memikat mata pengibing dan para penonton seperti ngagem, mengerakkan pinggul dan yang lainnya. Sang pengibing akan mencoba untuk mendekati penari perempuan sambil menggerakkan tangannya melakukan gerakan tarian, meskipun sudah pasti sang pengibing tidak mahir melakukan tarian tersebut yang hanya akan terlihat bodoh oleh para penonton. Hal itulah yang mengundang gelak tawa penonton dan menjadi hiburan yang mengasyikan.

Jika pengibing terlalu dekat dengan penari, maka sang penari akan memukul pengibing dengan kipas yang ia bawa. Bahkan tak jarang akan terjadi drama kejar-kejaran yang menampilkan sisi romantisme antar pengibing dan penari untuk menghibur para penonton.

Joged Bumbung Masa Kini

joged bali masa kini

Joged Bali kini di Cap sebagai tarian erotis yang menampikan kesan porno. Sungguh jauh melenceng dari tujuan utama tari joged yang hanya diperuntukan untuk menghibur para penonton.

Dalam setiap pementasan joged bumbung, para penari yang memiliki paras cantik senantiasa akan memancarkan aura kecantikannya untuk memikat para pengibing. Namun, kadang kala para pengibing malah melakukan gerakan-gerakan yang nakal untuk menggoda sang penari perempuan. Disinilah seharusnya penari bisa mengontrol para pengibing yang nakal agar tetap terjaga suasana yang santun namun tetap menghibur.

Namun pada kenyataanya, dalam penghadapi para pengibing yang nakal, para penari joged malah menampi balik pengibing yang nakal dengan ikut melakukan gerakan-gerakan yang tergolong erotis. Gerakan yang seharusnya hanya sebatas menggerakkan pinggul kekiri dan kekanan kini malah ditambah dengan gerakan maju kedepan dan kebelakang. Bahkan tak jarang sampai mengangkat busana mempertontonkan hal yang seharusnya di dipertontonkan.

Mengapa Joget Bumbung yang Terkesan Erotis Tetap Bertahan?

Joged bali memang sudah mengalami pergeseran, tapi mengapa hal tersebut tetap bertahan sampai sekarang? Hal ini terjadi kemungkinan karena tuntutan dari masyarakat modern.

Saya pernah menonton pertunjukan joged bali yang memang benar-benar tidak ada unsur erotisnya. Disela-sela pementasan, para penonton terlihat kecewa dengan tarian tersebut, mereka menganggap tarian terbut hanyalah tarian yang biasa-biasa saja. Malah mereka menganggap bahwa pementasan joged pada umumnya tidak seru untuk ditonton.

Karena tuntutan itulah membuat para sekee tidak memiliki pilihan lain agar jasa tari joged mereka tetap bertahan dan digunakan. Apalagi ditambah dengan adanya saingan antar sekee yang dapat melakukan apa saja agar jasanya dipilih untuk melakukan pentas.

Konklusi

Ditengah maraknya joged bumbung yang kian erotis, ada juga sekee yang memang mendalami joged bumbung sesuai dengan tujuan utamanya. Dari sekee yang saya tau beberapa diantaranya adalah Sekee Suara mekar, Banjar Antap, Panjer Denpasar dan yang lainnya yang saya yakin masih banyak sekee-sekee di bali yang peduli dengan tari joged bali.

Sebagai kaum yang khususnya para laki-laki yang mungkin akan menjadi calon pengibing jika nantinya ada acara joged di lingkungannya, Marilah menjadi pengibing yang baik, santun dan tau batasan-batasan kita sebagai pengibing. Dan untuk kita sebagai penonton, tidak perlu mengumbar video joged-joged erotis ke social media. Jangan sampai kita bangga dengan tarian joged yang terkesan erotis tersebut. Saya bukannya munafik atau tidak normal karena tidak suka dengan hal-hal tersebut. Tapi tetap saja, budaya ini adalah milik kita dan akan selalu di kritik oleh orang-orang yang ada di luaran sana. Kita tidak mau kan budaya tari joged di cap sebagai budaya negative oleh orang lain?!

Dan untuk para penari joged, tetap jaga goyangan-goyangannya. Tidak perlu goyang macam-macam apa lagi sampai buka-bukan, karena tarian bali sudah sangat indah dimata semua orang.