Omed omedan

Tradisi Omed Omedan Di Sesetan Bali

Tradisi Omed Omedan Di Sesetan Bali– Bali, pulau seribu pura. Pulau surga bagi para wisatawan. Salin dari pada wisatanya yang terkenal. Bali juga dikenal sebagai pulau yang memiliki banyak tradisi-tradisi yang unik dan tidak dapat ditemui di daerah-daerah lainnya di indonesia.

Seakan menjadi satu-kesatuan antara wisata dan tradisi atau budaya di bali dalam menarik wisatawan. Antara objek wisata dan budayanya selalu saling melengkapi sehingga para wisatawan baik lokal maupun mancanegara terpukau akan segala hal yang ada di bali.

Sebut saja salah satuTradisi Unik di bali yakniOmed Omedan. Tradisi yang diadakan setahun sekali tepat setelah hari raya penyepian ini diadakan di banjar kaja desa sesetan badung bali dan hanya ada di tempat itu saja.

foto tradisi omed omedan

Keunikan Tradisi Omed Omedan Di Bali

Omedomedandalam bahasa bali artinya tarik-tarikan. Suatu tradisi dimana seorang pemuda dan pemudi digotong kemudian dibiarkan berpelukan dan berciuman. Berciuman? ya percaya tidak percaya itulah kenyataanya.
Laki-laki dan perempuan yang akan melakukan Omed omedandiangkat dan digotong oleh banyak orang kemudian didekatkan agar mereka dapat saling bertemu dan berciuman. Syarat laki-laki dan perempuan ini haruslah belum menikah, mereka akan saling berciuman dihadapan orang banyak dan sambil disirami dengan banyak air oleh para pemuda pemudi lainnya.
Untuk anda para wisatawan yang ingin menonton, anda harus siap tersiram air oleh para tetua yang mengadakan dan memimpin acara tersebut. Karena air akan disiramkan sampai ke penonton.

Sejarah Tradisi Omed Omedan

Tradisi unik omed-omedan sudah ada sejak zaman belanda. Awalnya acara ini dilaksanakan oleh masyarakat Puri Oka, sebuah kerajaan yang telah ada sejak zaman penjajahan belanda. Diceritakan Pada Hari Raya Nyepi, masyarakat Puri Oka mengadakan acara omed-omedan. Saking antusiasnya, suasana jadi gaduh akibat acara saling rangkul para muda mudi.
Raja yang saat itu sedang sakit kemudian marah besar. Dengan berjalan tertatih-tatih raja keluar dan melihat warganya yang sedang rangkul-rangkulan. Anehnya melihat adegan yang panas itu, tiba-tiba raja tak lagi merasakan sakitnya. Ajaibnya setelah itu raja kembali sehat seperti sediakala. Sehingga sejak saat itu, tradisi omed-omedan rutin diadakan setiap tahunnya.
Masyarakat percaya apabila acara omed-omedan ini tidak diadakan maka akan terjadi hal-hal buruk yang tidak diharapkan.
Pernah pada tahun 1970-an acara ini ditiadakan dengan alasan banyak menuai kontrofersi, namun setahun setelah ditiadakan terjadi kejadian 2 ekor babi yang berkelahi di pelataran sebuah pura hingga kedua babi itu berdarah-darah dan kemudian babi itu menghilang begitu saja. Masyarakat kemudian menganggap kejadian itu sebagai pertanda buruk karena ditiadakannya acara omed-omedan itu. Sehingga tradisi omed-omedan kembali diadakan dan tetap dilaksanakan rutin setiap tahun sampai sekarang.